Rabu, 27 Mei 2015

Triologi Cinta Di Lapangan Basket




 “Horreee!!!! Kita menanggg!!!!.”
“kita berhasiillll!!!”
“tetap semangaatttt kawann!!!”
Sorakkan kemenangan tampak menghiasi lapangan.
“kita menang kapten,” ujar salah satu  pemain yang begitu riang gembira atas kemenangannya.
“iya!! Kita menang, semua ini berkat kerja sama kita semua.” Ujar sang kapten.
“yeaahhhh!!!!!!,” mereka semua bergembira.

Pertandingan telah selesai tampak  kedua tim berbaris saling menghadap dan memberi hormat untuk menjunjung tinggi solidaritas.
setelah itu terlihat seorang kapten memberikan arahan  kepada tim nya.
“kerja bagus untuk hari ini, pertahankan kekompakkan kalian sampai nanti kita menjadi juara,” ujar sang kapten memberikan semangattt.
“oke!!!, siaaappp kapteennn, semangaattt!!!!” antusias tim dalam meluapkan perasaan mereka.
“kita lolos ke babak final, pertandingan akan di laksanakan minggu depan, kita harus lebih giat berlatih karna lawan kita tentunya akan semakin kuat.” ujar sang pelatih.
“siaaappp pelatiiihh!!!!” sahut  satu tim dengan kompak.

Briefing selesai, tiap orang sibuk sendiri membereskan barang-barang mereka untuk bergegas pulang. Tampak sang pelatih mendekati dua pemain andalan mereka.
“kerja bagus untuk hari ini andi. Rebound mu sangat bagus, cepat dan kuat. Kau memang Center terbaik yang pernah aku temui.”
“terima kasih pelatih.”
“dan  kau juga sama reza. Sebagai shouter tembakkan mu tidak meleset. Kau adalah best point hari ini, tetap pertahankan kekompakan kalian dan bawalah tim ini menjadi juara.”
Reza dan andi hanya menganggukkan kepala mereka.

→ Di sekolah.

“hmm… badan ku masih terasa sakit semua setelah pertandingan kemarin,” keluh reza.
“aku juga, rasanya sangat malas untuk masuk sekolah.”
“kenapa pelatih tidak memberikan ijin untuk kita istirahat di rumah?”
“entalah!!! Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan kepada kita.”
Sesaat kemudian pandangan reza terfokuskan pada satu tititk yang selalu membuat detak jantungnya berdetak cepat ketika ia melihatnya. Sosok yang selalu ia pikirkan, selalu ia inginkan dan selalu ia mimpikan. Karna terlalu fokusnya dia melihat orang yang dia kagumi itu tanpa sadar dia menabrak sebuah tiang yang ada di depannya.

“Brruaaakkk,” suara benturan.
“kamu gimana sih rez!! Papan segede ini masih aja kamu tabrak.”
“ehh.. sorry, tadi kurang fokus sama jalan di depan mangkanya nabrak deh, hehe.” ujar reza mengela.
“ada aqua?” salah satu temannya mencoba menggoda.
“haha, Lo resek bro!!! emang kamu pikir kita iklan apa, hahaha.” Sambil ketawa bareng mereka terus melangkah menuju kelas.

Jam istirahat telah berbunyi.
“Gus!! Ke kantin yukk, laper nih belum sarapan tadi,” ajak reza.
“oke za, bentar ya aku selesain ini dulu.” Sahut gusti.
sesaat kemudian mereka langsung bergegas menuju kantin. Setelah makanan sudah ada di tangan mereka langsung mencari tempat untuk makan.

“wow!!! Rame bener!!! Udah kayak anak panti asuhan ya kalo kayak gini, haha,” ujar reza sambil tertawa lepas.
“dan kamu salah satunya za, haha.” Gusti balik menertawakannya.
“Loh!! Kok bisa?”
“ya bisalah, Lo lihat aja kita berada diantara mereka bodoh,” ujar gusti kesal.
“haha, bener juga ya. Lo resek bro kalo laper,” ujar reza.
“emang aku laper, ini mau makan. Udah jangan ngajak ngobrol aja, cepetan cari tempat buat makan.”
“tapi kita mau makan dimana? Gak lihat tempat pada penuh semua gitu.”
Sesaat gusti memutar kepalanya untuk mencari tempat kosong untuk mereka makan.
“nahhh!! Aku tau tempat dimana kita bisa makan,” ujar gusti.
“dimana?” tanya reza seraya mengangkat alisnya.
“disana!!! Di sebelah cewek yang pakek krudung itu.” Gusti menunjukkan tempatnya.
Mata reza membalak ketika dia melihat cewek yang berkrudung itu adalah cewek yang selama ini dia sukai.
“bentarrr guss!!! Mendingan kita jangan makan disana ya, feeling ku gak enak ini,” reza mencoba menahan gusti.
“kamu ini mau makan atau main perasaan sih. Mau makan aja pakek feeling segala. Ini masalah perut broo, aku laper mau makan. Yasudah kalo gak mau biar aku sendiri aja yang kesana.”
Dengan menelan ludah, reza pun terpaksa mengikuti langkah gusti menuju tempat itu.

“permisi!! Apa tempat ini kosong?” sapa gusti.
“oia silakan duduk aja tempat itu kosong kok, lagian aku juga udah selesai,” sahut wanita itu dengan lembut.
“oia terima kasih.”
Reza dan gusti mulai menyantap makanannya yang sedari tadi dibawanya.
“aku duluan ya mas, permisi!!” tutur wanita itu dengan lembut.
“oia silakan,” gusti memberi jalan.
Perlahan bayangan wanita itu mulai memudar dari pandangan reza. Dia hanya mampu meratapi langkah demi langkah yang dia hentakkan saat meninggalkannya.
“woii!!! Ngelamun aja Lo broo ada apa?” sentak gusti.
“oh gak!! Gak ada apa-apa.” ujar reza mengela.

“Krriiinngggg.” Bel tanda masuk kelas berbunyi. Reza dan gusti sudah berada di dalam kelas untuk mengikuti jam pelajaran selanjutnya. Tampak terlihat reza sedari tadi yang melamun.
“woii!!! Melamun aja dari tadi. Mikirin apaan sih lo?” tanya gusti kepo.
“eh gak!! Gak ada apa-apa kok gus,” reza mengela.
“bohong kamu, tak perhatiin dari tadi ngelamun terus. Waktu di kantin juga gitu.”
Mendengar kesaksian dari temannya itu. Akhirnya reza tidak bisa mengela dan membuka suara.
“aku sedang memikirkan seseorang yang selalu aku sebut dalam doa ku,” ujar reza tidak bersemangat.
“wow!! Kayaknya dalem tuh. Terus gimana? Apa kamu sudah mengungkapkan perasaan kamu ke dia?”
“belum gus!! Sampai saat ini hanya menjadi rasa yang sepihak saja. Aku belum bisa jujur padanya tentang semua yang aku rasakan.”
 “kenapa? Apa alasan mu tidak bisa mengatakannya?”
“entlah… aku tidak tau. Setiap kali aku melihatnya. Rasanya bibir ku seakan terasa terkunci, jangankan mengungkapkan isi hati. Menyapanya saja aku tidak bisa. Perasaan ini menahanku, mematahkan alur nadiku sehingga aku tidak bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan.”
“haha. Kau terlalu banyak filosofi bro, dengerin aku ya bro. Rasa cinta  itu hadir bukan untuk di sembunyikan melainkan untuk di ungkapkan. Jika kamu hanya bisa menahannya, maka sampai kapanpun kamu tidak aka pernah bisa mendapatkan jawaban atas perasaan mu sendiri.” tutur gusti menasehati.
Mendengar nasehati dari gusti, reza hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa berkomentar apapun.
“kamu cowokkan?” tanya gusti.
“iya cowoklah emang kamu pikir aku banci apa,” ujar reza sewot.
“kalau kamu cowok, kamu buktiin!! Caranya kamu harus berani mendekatinya.”
“untuk saat ini aku belum bisa. Sudahlah!!!! Biar sang waktu yang menjawab semua tanya hatiku ini,” ujar reza pasrah.
“kamu menunggu waktu yang menjawabnya? Mau sampai kapan broo!!! Waktu tidak akan pernah menjawab semua tanya hatimu. Yang ada waktu akan terus berlalu, kalo kamu hanya diam, waktu akan semakin membuat mu jauh darinya. Ayolah semangat pasti kamu bisa.” ujar gusti memberi semangat.
“bijak bener kata-katamu, hahaha. Tapi makasi banyak ya bro udah mau dengerin curhatan ku.” ujar reza yang mulai bersemangat kembali.
“makasi doang? Makan kek di kantin!!” ledek gusti.
“kamu itu ya kalo bantu orang mesti ada maunya.”
“haha. Hidup itu gak ada yang gratis bro.”
“oke. Tak traktir nanti kalo aku udah bisa jadian sama dia.”
“sippp!!! Saya tunggu itu, hahaha.” gusti tertawa lebar.

Sesaat kemudian terdengar suara adzan berkumandang dari masjid.
“ayo sholat bro. biar kamu gak galau aja,” ledek gusti lagi.
“oke broo!!.”
Merekapun melangkah menuju masjid untuk melaksanakan sholat.
sesampainya di masjid. Tatapan reza kembali tertuju pada sosok wanita yang selalu dia kagumi. Dalam hati dia berkata.
“udah cantik, manis, rajin sholat lagi. Gilaaaa!!! Sempurna banget ini cewek. Bisa gak ya kira-kira aku dapatin dia?” tanya reza kepada dirinya sendiri.
“woii…!!! Aku ngajak kamu kesini buat sholat bro, malah ngelamun. Ngelamunin apa sih kamu?”
“dia disini guss!!!.”
“yang mana orangnya. Penasaran aku, kayak apa sih cewek itu sampek buat kamu stress kayak gini.”
“nanti aja aku kasi tau kalau aku udah bisa deketin dia.”
“iyalaahhhh!!!  Whatever  you say brooo.” Ujar gusti jengkel.
Setelah selesai sholat.
“nanti kita latihan abis pulang sekolah, bawa baju ganti sama sepatu kan?” ujar gusti memberitahu.
“iya aku bawa kok, tenang aja.”

→ Lapangan.

“Prriiittttt!!!.” Suara peluit.
“baik anak-anak saya rasa latihan untuk hari ini cukup.” ujar pelatih.
“haaahhhh!!! Akhirnya selesai juga,” ujar raza seraya membaringkan tubuhnya diatas tanah.
“kerja bagus rez!!!” sapa andi.
“kamu juga bro,” balas reza seraya menghantamkan kepalangan tangan ke tangan andi.
“kita harus lebih keras berlatih karna lawan kita pasti kuat.”
“iya ndi aku rasa seperti itu. Tinggal menghitung hari maka pertandingan final akan di mulai.”

Terlihat setiap pemain sibuk mengkemas barang mereka dan bergegas untuk pulang. Perlahan lapangan mulai sepi hanya tinggal reza seorang yang masih berada di lapangan.
seketika pandangannya menatap tajam sesosok perempuan yang selalu membuatnya berdetak kagum.
“jam segini dia belum pulang? Apa yang dia lakukan disini sendirian?” desih reza di dalam hatinya.
“ini kesempatanku untuk mendekatinya.” Tanpa berfikir panjang reza pun mencoba memberanikan diri untuk mendekatinya.

“hai!!!” sapa reza.
“hai juga?”
“jam segini kok belum pulang? Hari udah mulai sore lo?” tanya reza.
“iya ini mau pulang, Cuma masih nunggu jemputan orang tua.”
“ohh!! Begitu ya. Aku temenin ya gak baik cewek cantik duduk sendiri pamali namanya,” ujar reza menggoda.
Namun cewek itu hanya tersenyum geli.
“oia aku reza, nama kamu siapa?” tanya reza seraya mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
“aku rahma.”
“rahma? Nama yang indah , persis seperti orangnya,” ujar reza menggoda kembali.
Beberapa saat kemudian.
“aku pulang dulu, orang tua sudah di depan. Assalamualaikum!!”
“waalaikum salam.”
Reza hanya tercengang meratapi langkah kaki rahma yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Dalam hatinya dia berkata “gilaaa… ini cewek, bukan hanya cantik di luar aja kepribadiannya juga. Mau pulang aja dia mengucapkan salam padaku jarang sekali aku menemukan cewek seperti dia atau bahkan hampir tidak ada. Rahma? Aku harus bisa dapetin dia!!!”

Sesi Latihan.

    “Prriiiittttt.” Suara peluit pelatih menandakan latihan telah berakhir.
“widihhh!!! Kesambet apa kamu rez? Semangat banget tadi pas latihan” gusti kepo.
“haha, aku lagi seneng guss. Senengggg bangett!!!!!” ujar reza lebay.
“emangnya ada apa? Abis dapet arisan Lo ko kelihatannya girang amett, haha.” Gusti ngeledek.
“ini lebih dari sekedar arisan gus.”
“emangnya apa?” gusti makin penasaran.
“aku udah berhasil deketin cewek yang aku suka itu,” ujar reza dengan mata yang berbinang-binang.
“oia? Gimana ceritanya tuh kok bisa?”
Perlahan pun reza menceritakan kejadian yang dia alami kemarin ketika selesai latihan.
“wow?? Sepertinya keberuntungan ada di pihak mu rez.”
“yoii masbro, haha.” Ujar reza songong.
Tiba-tiba andi datang mendekati di tengah kegaduhan mereka berdua.
“ada apasih kayaknya heboh banget?” ujar andi.
“gak ada apa-apa ndi, Cuma ada yang lagi PDKT aja sama cewek!!”
“oia? sepertinya bau-bau teraktiran nih,” ledek andi.
“yoi itu broo!!!” ujar gusti.
“haha. Lo resek bro. di doain aja kalo sampek aku bisa dapetin dia. Aku teraktir kalian.”
“serius bro?”
Reza hanya menganggukkan kepalanya.
“sip dah, mantap kalo gitu!!!”

Hari terus berganti perputaran waktu sili berganti membawa reza dekat dan semakin dekat dengan rahma. Banyak waktu yang sering mereka lalui bersama, melakukan banyak hal bersama yang tertuang dalam kenangan manis di antara mereka berdua.

Suasana Sekolah.

Tampak reza dan gusti sedang berjalan bersama.
“eh… rez!! Sudah sampai sejauh mana pendekatanmu dengan dia?” tanya gusti.
“berjalan lancar bro, tinggal nunggu moment yang pas aja buat ngasi tau perasaan ku yang sebenarnya ke dia,” ujar reza.
“ah!! Lama lo bro. kebanyakkan mikir, kamu dengerin aku ya. Cewek itu paling gak suka nunggu jadi kamu harus lebih peka sama cewek itu.”
“iya aku tau, hanya saja aku belum siap.”
“belum siap kenapa?”
“aku takut perasaanku tidak terbalas olehnya,” ujar reza tidak bersemangat.
“jadi kamu takut patah hati gitu?”
Reza hanya terdiam.
“gini ya rez. Aku kasi tau kamu satu hal. Dalam mencintai seseorang yang kita sayangi itu pasti ada resikonya. Resikonya itu kalo gak bahagia ya sakit. Itu hukum yang pasti dalam cinta. Disaaat cinta mu terbalas oleh orang yang kamu sayangi maka kamu akan rasakan kebahagaiaan. Namun sebalikknya jika perasaan cinta mu hanya sepihak kamu harus terima karna itu resiko dalam mencintai. Jika kamu tidak bisa menerima kosekuensi tersebut mending ya gak usah jatuh cinta aja sekalian dari pada hal itu hanya membuat mu melakukan sesuatu yang setengah-setengah. Jadi yang harus kamu lakukan sekarang adalah percaya. Percaya akan perasaan yang kamu miliki dan percaya pada orang yang kamu sayangi, yakin deh kamu pasti bisa mendapatkannya,” tutur gusti memberi saran.
Mendengar perkataan gusti. Reza hanya terdiam untuk sesaat dan berkata.
“sumpah ya!!!!” ujar reza.
“sumpah kenapa bro?”
“kata-kata Lo kereeennnn bangettt brooo. Gila!! belajar dari mana kamu, kok sadis gitu kata-katamu.”
“haha. Biasa aja. Itu hanya rangkaian kata yang aku devinisikan dalam suasana yang ada dan aku rangkai tuk menepiskan keresahanmu,” gusti tertawa.
“wow!!! Bakat Lo bro jadi motivator??”
“motivator yang memberi semangat orang gitu?”
“enggak bukan. Ngasi semangat buat monyet di kebun binatang sana.”
“kurang ajar Lo bro.”
Reza hanya tertawa.

Ke esokkan harinya di adakan pertandingan persahabatan untuk memaksimalkan mental para pemain. Meskipun hanya pertandingan persahabatan namun pertandingan berjalan seru dan menegangkan. Para pemain serius untuk lebih memacu mental mereka dalam menghadapi final nanti.
selang beberapa saat kemudian, pertandingan  pun berakhir.

“Kamu kenapa ndi, aku lihat permainan mu tadi kurang semangat?” tanya reza.
“iya ndi. Rebound mu juga kurang kuat, banyak bola yang terlepas,” tambah gusti.
“sorry bro. perasaan ku saat ini lagi kacau,” keluh andi.
“memangnya ada apa?”
“galau broo.. di hantui masa lalu teruss.”
Reza tertawa.
“haha. Pantas status bbm mu galau terus ternyata ini masalahnya.”
“hari gini masih aja galau!! Udah gak jaman bro,” ujar gusti.
“aku gak bisa melupakannya, aku udah terlalu sayang padanya.”
“kalo seperti itu, lalu kenapa kamu putus dengannya?”
“banyak hal yang terjadi antara aku dan dia yang membuat hubunanganku tidak bisa aku pertahankan.”
“begitu ya!!”
“tapi kalo boleh aku kasi saran. Kamu harus bisa professional ndi. Kamu gak boleh ngorbanin kita semua kayak gini. Kamu mau kita kalah dan menghancurkan semua harapan teman-teman kita di final nanti? Setiap orang punya masalah bukan hanya kamu aja. Jadi aku harap kamu lebih dewasa lagi dalam bertindak,” tutur gusti memberikan semangat.
“tuh!!! Dengerin apa kata bapak motivator, hahaha,” ledek reza
“iya aku sadar, aku minta maaf untuk hari ini,” ujar andi menyesal.
“okelah tidak masalah tapi next time jangan seperti ini lagi.”
“iya aku janji,” andi merasa bersalah.
“lagian kita semua disini itu adalah teman. So? Kamu bisa berbagi ceritamu ke kita semua kapanpun dan dimana pun kamu butuh. Kita akan selalu ada buat kamu bro,” sahut reza seraya merangkul pundak andi.
“makasi buat semuanya. Maaf untuk hari ini.”
“udahla gak perlu kamu pikirkan. Kita itu teman dan itulah gunanya teman saling membantu satu sama lain disaat satu diantara kita membutuhkan.”
Terlihat senyum semangat terpancar dari raut wajah andi. Dan begitulah seharusnya seorang teman itu saling mengisi satu sama lain tanpa memandang bulu dan waktu. Seorang teman ibaratkan sayap yang akan membantu kita tetap terbang disaat jatuh. Teman adalah orang yang selalu mengerti kita dalam setiap hal dan waktu. Bukan karna sesuatu melainkan sesuatu yang harus dibagi dan dirasakan bersama. Itulah sahabat…

“ayo kita pulang. Tetap giat berlatih pertandingan final sebentar lagi,” ujar pelatih.
“siaaapppp!!!” sahut tim dengan serempak.
Perlahan lapangan mulai tampak sepi karna banyak diantara mereka yang sudah beranjak pulang.
“ayo rez kita pulang?” ajak gusti.
“oke. Andi mana?”
“dia pulang duluan katanya ada keperluan.”
“begitu ya! Ayo kita pulang.”
Dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggil.
“Reza?” dan ternyata yang memanggil itu adalah rahma.
“ehh!! Kamu? Kok belum pulang.”
“iya. Aku nungguin kamu selesai tanding.”
“oia.. gus!! Ini cewek yang pernah aku ceitakan ke kamu,” ujar reza memperkenalkan rahma ke gusti.
Mereka berdua pun saling berjabat tangan sebagai simbol perkenalan.
“sebentar ya aku ingin bicara sesuatu ke reza,” ujar gusti seraya menarik tangan reza untuk menjauh dari rahma.
“jadi ini cewek yang kamu maksud itu,” ujar gusti.
“iya!! Emang kenapa?” tanya gusti.
“kamu tau dia siapa? Dia itu mantannya andi. Orang yang membuat andi tidak bersemangat hari ini. Yag aku tau andi tidak bisa move on selama ini darinya,” ujar gusti memberitahu.
Mengetahui kebenaran yang sedang terjadi membuat reza shok tak percaya.
“apa kamu serius gus?” tanya reza dengan wajah serius.
“apa kamu pikir aku sedang bercanda? Kalo boleh aku kasi saran mending kamu jauhin dia, lupakan perasaan mu terhadapanya. Demi kebaikkan tim kita.”
Reza hanya termenung terdiam mendengar perkataan gusti. Di benaknya banyak muncul pertanyaan yang harus dia pilih.
“aku pulang duluan rez. Aku cuma titip pesan ku yang tadi. Jangan egois pikirkan juga perasaan kita semua terutama andi,” gusti pun perlahan berlalu meningggalkan reza.
“ada apa? Kok tiba-tiba raut wajahmu berubah gitu,” tanya rahma.
“ohh!! Tidak ada apa-apa kok. Cuma ada problem sedikit.”

→ Di Rumah.

Sesampainya di rumah. Reza masih memikirkan perkataan gusti. Perkataan itu menghadapkan reza pada pilihan yang sangat sulit. Dia harus memilih seuatu yang tidak dia pilih. Di satu sisi dia sangat ingin bersama rahma namun di sisi lain dia harus memikirkan perasaan teman-temannya. Angannya melayang tinggi mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang ia hadapi. Dalam hati ia berkata. “ aku gak boleh terus seperti ini. Aku harus mengambil keputusan.”
Pertandingan final akan di mulai besok. Reza mencoba mengambil keputusan sebelum rasa penyesalan menghantui hidupnya.
“yang terpenting saat ini adalah teman-temanku. Aku harus menang, aku tidak boleh egois seperti ini. Aku harus bisa melakukannya!!!”
Ke esokkan harinya reza mengajak rahma jalan.

“Kriinnggg….. kriinggg.” Suara telepon rahma bordering.
“assalamualaikum,” sahut rahma.
“waalaikum salam,” balas salam reza.
“ada apa za? Tumben siang-siang gini kamu telepon aku.”
“hari ini kamu ada kegiatan apa gak?”
“tidak ada. kenapa?”
“aku mau ngajak kamu jalan nanti sore. Ada hal penting yang harus aku bicarakan ke kamu.”
“oia? Kebetulan dong kalo gitu. Aku rencananya juga mau ketemu kamu. Ada sesuatu yang mau aku kasi ke kamu.”
“sesuatu apa?”
“tenang aja. Nanti kamu juga tau.”
“baiklah kalo gitu. Sampai ketemu nanti sore ya.”
“baiklah. Assalamualaikum.”
“waalaikum salam.”
Reza pun menutup teleponnya. Seperti yang telah di janjikan sore itu mereka jalan bersama.

“kamu kenapa sih kok gak seperti biasanya, dari tadi tak perhatiin kamu banyak melamun” ujar rahma.
“aku gak apa-apa kok, kamu tenang aja.”
“gak perlu bohong sama aku. Dari raut wajah kamu kelihatan ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku.”
Reza hanya terdiam membisu.
“oia!! Aku mau ngasi sesuatu buat kamu. Ini!!!” ujar rahma seraya mengulurkan tangannya.
“apa ini?” tanya reza.
“itu deker buat kamu. Aku harap kamu akan memakainya di pertandingan besok. Semangat ya!!! Aku yakin kamu bisa. Cetak sekor yang banyak.” Ujar rahma dengan senyum manisnya.
Melihat linangan mata rahma yang begitu penuh harapan membuat reza terpaku tak berdaya. Dia tak kuasa bila harus mengatakan yang sejujurnya.
“bagaimana ini! Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Aku gak mungkin bisa menghancurkan perasaannya sekarang. Tuhan… tolong bantu  aku!!”
“heii… kamu kok diem aja! Kamu gak suka ya sama pemberianku ini,” ujar rahma sedikit kecewa.
“ehh!! Bukan seperti itu. Aku suka banget tapi maaf!!!!” reza tertunduk.
“maaf! Maaf untuk apa?” ujar rahma bingung.
“maaf aku tidak bisa menerima ini. Aku tidak bisa,” reza menolak pemberian rahma.
“kenapa? Kenapa kamu tidak mau menerimanya?”
“aku tidak pantas untuk menerimanya. Mendingan kamu berikan deker ini kepada andi. Aku rasa dia lebih pantas memakainya di pertandingan final besok. Maaf rahma aku tidak bisa dan ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Lupakan aku anggap saja tidak pernah terjadi perkenalan diantara kita berdua.”
Tanpa memberikan waktu kepada rahma  untuk berbicara. Reza sudah berlari menjauh dari rahma meninggalkannya bersama linangan air mata yang perlahan mulai menetes membasahi pipinya. Reza terus berlari dan berlari mencoba berada pada posisi sejauh mungkin dari keberadaan rahma. Dengan perasaan hati yang hancurr eza terus berlari. Dalam hati kecilnya terbesit.
“maafkan aku rahma. Aku harus melakukan hal ini padamu sebenarnya ini bukan inginku tapi apalah dayaku aku tidak bisa berbuat apa-apa semua ini aku lakuin untuk kebaikkan bersama biarlah aku saja yang merasakan sakit ini, aku sendiri yang akan menanggung luka ku ini.”
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Pertandingan final lomba basket dalam tingkat nasional akan segera di mulai. Kedua tim melakukan pemanasan untuk melenturkan otot-otot mereka.
“gimana rez apa kamu sudah mengambil keputusan?” tanya gusti.
“sudah!! aku melakukannya sama persis seperti yang kau katakan.”
“baguslah kalo seperti itu. Mari kita menang bersama.”
Reza hanya menganggukkan kepalanya.

Tampak suasana di stadion sangat ramai. Suara gemuruh penonton dan para supporter memberikan antusias yang luar biasa terhadap basket.
“oke kawan!! Ini waktunya kita beraksi keluarkan semua yang kalian miliki. Apapun yang terjadi kita harus menang. We can do it,” ujar sang kapten memberikan semangat.
Selang beberapa saat kemudian akhirnya pertandingan di quarter pertama di mulai.
“Priittttt!!!”  wasit telah meniup peluitnya.
Tip-off pertama telah di mulai. Kedua tim saling menyerang. Para pemain saling beradu skill berusaha sekuat tenaga yang mereka bisa untuk mendapatkan point. Suara para supporter bersaut-sautan antar dua tim untuk memberikan semangat pada tim kebanggaan mereka.
Quarter pertama telah selesai.

“tenang… ini masih quarter pertama. Jangan takut karna kita tertinggal kita harus bisa menjaga tempo permainan. Kita masih bisa menyusul ketertinggalan point kita. Ayo semangat!!.” Ujar pelatih memberikan arahan.
Pertandingan di lanjutkan kembali. Namun sampai di akhir quarter kedua point mereka tetap tertinggal dari lawan. Hal ini semakin memperburuk keadaan.
Quarter kedua berakhir. Wasit memberikan istirahat bagi para pemain selama 15 menit.

“masih ada waktu untuk menyusul ketertinggalan point kita. Di quarter selanjutnya aku harap kalian semua mainnya lebih tenang, kompak dan semangat lagi. Kalian harus bisa saling percaya satu sama lain. Ayo semangat yakin kita pasti menang, semangat masih ada sisa dua quarter lagi,” ujar pelatih memberikan semangat.
Terlihat reza sedang menarik nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya diatas lantai.
“are you oke bro?” sapa gusti.
“iya aku baik-baik saja,” sahut reza.
“maaf rez karna aku telah memaksa mu untuk melakukan hal ini.”
“tidak apa. Ini yang terbaik yang bisa aku lakukan.
“kamu kenapa hari ini? Apa yang terjadi? Aku lihat kamu tidak bersemangat seperti biasanya? Tanya sang kapten.
“aku tidak apa-apa kapten.”
“jika demikian kenapa dari tadi shooting mu selalu saja mleset! Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Reza hanya menundukkan kepalanya tanpa mau menjawab pertanyaan dari kaptennya. Cahaya nya redup tidak seperti biasanya. Dia terlihat sangat kacau.

“Prriitttt!!!” wasit telah meniupan peluitnya menandakan waktu istirahat telah habis. Kini quarter ke tiga akan segera di mulai. Para pemain satu persatu mulai memasuki lapangan.
terlihat sang kapten berjalan mendekati reza dan berkata:
“kami semua percaya padamu,” ujar sang kapten sambil penepuk bahu reza.
“selanjutnya aku serahkan padamu rez!!! Cetak point sebanyak yang kau bisa dan bawalah tim ini menjadi juara.”
Quarter ke tiga di mulai. Perlahan mereka sudah bisa mengejar ketertinggalan point. Namun lawan tidak tinggal diam mereka terus melakukan perlawanan yang sengit sehingga ketertinggalan point pun semakin menjauh. Quarter ketiga berakhir tidak sesuai harapan. Keadaan semakin memburuk para konsentarsi pemain mulai goyah.
“ada apa dengan kalian semua? Kenapa permain kalian seperti ini!! Dan kau reza! Kenapa dari tadi shooting mu kebanyakkan yang airball? Ayo semangat kalian semua harus fokus pada permainan. Ini quarter terakhir aku harap kalian bisa melakukan yang lebih baik lagi.”
Quarter empat di mulai menjadi babak penentuan untuk mereka bisa meraih mimpi atau hanya akan menjadi pemimpi. Para pemain saling bekerja keras untuk memperbaiki ketertinggalan point namun perlawanan yang hebat terus mereka dapatkan dari lawan. Suara gemuruh supporter dan penonton pun tak mengenal rasa lelah demi memberikan semangat kepada tim kebanggaan mereka. Sisa waktu tinggal setengah dari quarter ke empat namun keadaan semakin memburuk. Tempo permainan menjadi semakin rumit dan tidak stabil mental mereka mulai goyah.
Melihat situasi yang semakin memburuk. Andi meminta pelatih untuk melakukan time-out.

“bisa kita bicara sebentar,” pinta andi kepada reza.
lalu mereka menjauh dari keramaian para pemain lainnya.
“ada apa ndi kok tiba-tiba mengajak ku kesini?”
“ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“tentang apa?”
“apa yang terjadi denganmu? Kau terlihat sangat kacau tidak seperti biasanya.”
“aku tidak apa-apa semalam aku kurang tidur mangkanya kurang semangat.”
“jangan bohong. Aku sudah tau semuanya lebih baik kau jujur padaku.”
Reza menatap tajam mata andi. Seakan dia tau segalanya tentang apa yang dia pikirkan saat ini.
“aku tau apa masalahmu. Ini tentang rahmakan,” ujar andi.
“bagaimana kau tau,” respon reza terkejut.
“aku sudah tau semuanya rahma sudah menceritakan semuanya padaku.”
“apa?? Dia!!”
“iya!! Dia menemui ku dan menceritakan semuanya padaku. Kenapa kau tega melakukan itu padanya.”
“karna itu yang terbaik,” ujar reza dengan kepala tertunduk.
“jika ini yang terbaik dia tidak akan sampai meneteskan air mata bodohhh!!! Dia menangis di hadapan ku dan kau tau itu membuat ku sangat tidak tega melihatnya.”
Reza hanya diam.
“jika kau berfikir ini yang terbaik, aku rasa semua itu terbaik untukmu bukan untuknya karna yang terbaiknya itu adalah kamu.”
Reza masih terdiam seribu bahasa tanpa bisa berkomentar apa-apa setelah mendengar perkataan andi.
“ini untuk mu,” andi mengulurkan kotak kecil yang ada di tangannya untuk reza.
“apa ini?”
“jika kau ingin tau buka saja.”
Reza membuka kotak kecil itu dan alangkah terkejutnya ternyata kotak itu berisi deker yang waktu itu mau diberikan kepadanya namun dia menolak.
“ini kan??”
“iya.. itu untuk mu, kemaren sebelum dia pergi dia memintaku untuk memberikanyai padamu.
Terlihat selembar kertas terselip dalam kotak kecil tersebut. Kertas itu bertuliskan:
“semangat ya.. aku yakin kamu pasti bisa, aku selalu mendukungmu!!”
Setelah membacanya semangat reza kembali lagi. Kini beban yang tadinya dia rasakan sekarang tak lagi terlihat di raut wajahnya.
“thank ya ndi.”
“iya sama-sama, itulah namanya teman.”
“lalu bagaimana dengan mu?”
“tidak perlu perdulikan aku, aku akan baik-baik aja. Sekarang yang terpenting itu adalah rahma aku hanya ingin dia bahagia. Jika dia merasa bahagia denganmu maka aku akan merelakannya untukmu. Aku percayakan dia padamu.”
Time-out berakhir. Reza dan andi bergegas menuju kelapangan. Sebelum dia memasuki lapangan dia mencari sesosok perempuan yang selalu dia rindukan. Terlihat dari kejauhan dia dapat melihatnya.
Itu dia!!! Rahma dengan memegang poster yang bertuliskan “ You Can Do It!!”
Reza hanya tersenyum dan segera masuk lapangan. Dia mengenakan deker pemberian dari rahma dan sekarang dia siap untuk bertarug.

“Prriiitttt!!!!” pertandingan berlanjut. Tanpa banyak waktu reza langsung menyerang menerobos pertahanan lawan dan mencetak angka three point. Serentak para penonton yang memadati stadion bersorak ria untuk reza. Hal itu terjadi berulang-ulang hingga sampai akhirnya dia bisa menyusul ketertinggalan point dari lawan. Kini rasa kesedihan tidak nampak lagi dari raut wajah reza yang ada sekarang hanyalah rasa semangat bertarung untuk menjadi sang juara.
Reza terus menyerang dan melakukan shooting andalannya yaitu three point yang membuat point semakin menjauh dari lawan. Berulang-ulang dia melakukan three point yang mengundang decak kagum dari penonton.
Waktu terus berlalu jarum jam pun terus berputar hingga sampai akhirnya pertandingan berakhir. Mereka berhasil keluar menjadi juara. Seketika itu stadion menjadi sangat meriah menyambut kemenangan yang mereka raih. Setelah melewati masa-masa yang sulit akhirnya reza menjadi pahlawan yang membawa tim nya meraih gelar juara tingkat nasional. Para pemain bersujud syukur atas kemenangan yang mereka raih.
terlihat para pemain dan pelatih sangat bahagia terlebih ketika mereka menerima piala kemenangan mereka. Tak dapat di bendung lagi rasa bahagia yang mereka rasakan.
Para penonton kembali bersorak sebagai ungkapan selamat untuk sang juara. Setelah perayaan kemenangan berakhir. Rahma turun kelapangan mencoba mendekati reza seraya berkata:
“selamat ya, kamu berhasil!!” ujar rahma sambil mengulurkan tangan.
“iya terima kasih. Semua ini berkat kamu.”
“kok karna aku?”
“karna kamu adalah penyemangatku.”
Rahma hanya tertunduk malu.
“kamu tau gak. Hari aku mendapatkan dua hal yang sangat berati  dalam hidupku.”
“apa itu?”
“yang pertama kemenangan ini.”
“lalu yang kedua?”
 “yang kedua aku memenangkan hatimu,” ujar reza seraya menatap tajam bola mata rahma.
Rahma hanya tersenyum mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang mulai memerah karna malu.
Tiba-tiba andi memanggil reza.
“Ssttt… reza? Tangkap ini.” Andi melemparkan bola ke arah reza.
Reza menangkap bola itu sambil berlari menuju ring dan melakukan dunk seraya
berteriak dengan lantang.
“AKU CINTA KAMU RAHMA!!!!!”
Reza mendaratkan kakinya dan berbalik arah menghadap rahma sambil membuka kedua tangannya.
Lalu rahma berlari menuju reza dan berkata:
“aku juga cinta kamu reza!!” ujar rahma seraya memeluk erat tubuh reza dengan segenap rasa cinta yang dia miliki.
“jadi kamu mau jadi pacar ku?” tanya reza.
Dengan tersipu malu, rahma hanya menganggukkan kepalanya.
Melihat kemesraan reza dan rahma teman-teman satu tim nya menyorakinya.
“ciee… ada yang jadian nih!!” ujar andi.
“yoi broo..” sahut gusti.
“pokoknya jangan lupa teraktirannya,” tambah gusti.
“hmm… kalo masalah makanan kalian eamng selalu ingat ya,” ujar reza tak percaya kalo teman-temannya sampai hari ini masih mengingat janji yang pernah di buatnya dulu.
“so pasti masbrooo!!!! hahahaha”
 Teman-temannya hanya bisa tertawa lebar melihat tingkah laku reza yang kepalang.

SEKIAN

Sabtu, 28 Maret 2015

In Memoriam Olga Syahputra












OLGA SYAHPUTRA adalah sesosok selebritis yang luar bagi saya. Mengapa tidak? Dia adalah sesosok manusia yang patut kita contoh karna di balik kesuksesannya dia tetap menjadi orang yang sederhana yang selalu melihat atau berbagi dengan orang-orang yang berada di bawahnya. Dia tidak segan-segan membagi harta yang dia miliki untuk bisa membantu orang lain.

Dan saya disini bukan siapa-siapanya, bukan kerabat atau bahkan keluarganya. Namun di dalam Islam sesama Muslim itu adalah saudara dan inilah apresiasi saya terhadap Alm. OLGA SYAHPUTRA.

Saya tercengang melihat pemberitaan tentang meninggalnya OLGA SYAHPUTRA. Tercengang bukan lantaran kaget ataupun sedih karna dia telah meninggal namun yang lebih membuat saya tercengang dan bahkan membuat saya merinding adalah melihat begitu banyaknya pelayat yang mengerubuni rumahnya, di tempat pemakamannya dll.

Bisa di lihat dari layar kaca televisi anda, berapa orang yang datang untuk memberikan doa kepada Alm. Ribuan manusia menangis, bersedih merasa sangat kehilangan atas kehilangan seorang artis yang luar biasa yaitu OLGA SYAHPUTRA.

Kepribadiannya yang baik hati yang suka menolong orang lain dan menghibur banyak orang menjadikannya manusia yang sangat dicintai oleh banyak orang. Ribuan pelayat yang datang menjadi saksi bahwa dialah orang yang di rahmati ALLAH SWT.

Dia bukan siapa-siapa, dia bukan Ulama’ , bukan ustad dll nya. Dia hanyalah seorang artis yang memiliki jiwa luar biasa tak jarang orang lain seperti dia. Ribuan orang yang mendoakannya tidak hanya di dunia nyata di sosmed atau internet bela sungkawa dan doa tertulis untuk OLGA SYAHPUTRA. Memang benar itu hanya tulisan belaka namun postingin itu tulus dari hati dan ALLAH menjabah doa mereka, orang-orang yang mencintai OLGA SYAHPUTRA.

Hal ini menjadi bukti kekuasaan ALLLAH, bahwa manusia yang dicintai ALLAH adalah manusia yang ketika dia meninggal akan banyak orang yang mendoakannya dan banyak orang yang merasa kehilangan.

SUBHANALLAH…… Mahan suci ALLAH atas segala apa yang terjadi di dunia ini. Saya hanya merinding melihat orang-orang yang datang melayat untuk memberikan doa atas Alm. OLGA SYAHPUTRA. Tidak hanya itu bahkan orang-orang berlomba-lomba untuk bisa memandikannya, menyolatnya, menguburnya dan bahkan ada yang berlomba-lomba hanya untuk bisa menyentuh keranda Alm.
Ya… inilah orang yang dicintai ALLAH, orang yang di rahmati ALLAH.
semua yang terlihat di layar kaca itu semua adalah saksi bahwa dia adalah manusia yang di dalam hidupnya di Ridhai ALLAH SWT.

Untuk itu para sahabat Muslim.  Pelajaran apa yang kalian lihat ketika menyaksikan atas meninggalnya OLGA SYAHPUTRA yang di tayangkan di televisi. Kurasa jika hati nurani anda berbicara anda akan dapat pelajaran yang luar biasa dari kejadian ini, dan saya sudah mendapatkan pelajaran yang berarti untuk kehidupan saya ke depan yang lebih baik.

OLGA SYAHPUTRA meninggal di umurnya yang ke-32 tahun, umur yang sangat muda untuk seseorang meninggal dunia. Dalam hal ini terdapat dua argument. Argument pertama mengatakan sangat di sayangkan di umurnya yang masih terbilang muda sudah meninggal dunia, disaat karirnya berada di puncak kesuksesan. mungkin inilah salah satu bentuk kasih sayang ALLAH terhadap Alm. dia adalah orang baik ALLAH memanggilnya lebih cepat karna ALLAH tidak ingin hamba yang di sayanginya berbuat dosa lebih banyak untuk itu ALLAH memanggilnya lebih cepat. Argument kedua mengatakan bahwa meninggalnya OLGA SYAHPUTRA adalah jalan terbaik yang telah di tunjukkan ALLAH kepada Alm. Karna hampir setahun OLGA SYAHPUTRA berjuang melawan keras melawan rasa sakit yang di deritanya selama setahun kebelakang.

ALLAHUA’LAM……. Hanya ALLAH yang tau atas segala rahasia yang ada dunia ini. Namun yang pasti yang ingin saya ingatkan kepada sahabat Muslim adalah untuk selalu menjaga  kesehatan itu yang terpenting karna sehat itu mahal harganya. Sesibuk apapun hidup anda, kegiatan anda jangan terlalu memaksakan diri. Karna di dalam Islam itu mengajarkan bahwa seseuatu yang berlebihan itu tidak baik. Oleh karna itu lakukan dengan pas dan tetap bersyukur atas segala yang kita miliki yang telah diberikan ALLAH kepada kita. Lakukan hal-hal yang baik kepada sesama agar kelak ketika kita tiada banyak orang yang berdoa dan bersedih atas kepergian kita seperti yang terjadi pada Alm. OLGA SYAHPUTRA.
selalu berbuat amal shaleh karna itu bekal yang kita butuhkan ketika menghadap sang ilahi.
prioritaskan amal kebaikkan di setiap waktu karna tidak anda yang tau kapan sang ilahi memanggil kita.

Akhir kata saya sampaikan, selamat jalan OLGA SYAHPUTRA canda tawa akan selalu di rindukan oleh orang-orang yang mencintaimu dan mereka akan selalu mengenang semua kebaikkan mu. Terima kasih atas hiburan yang telah kau berikan kepada kami. Semoga ALLAH mengampuni segala dosa-dosa Alm. dan menempatkannya disisi-Nya yang ALLAH ridhai yaitu SURGA.

AMIN YA RABBAL ALAMIN…………

By: Riyan Autogenestic

Jumat, 27 Maret 2015

Hatiku Tertuju Padamu




























Sinopsis:
Elsa adalah seorang cewek yang berpenampilan feminim namun berubah menjadi anak yang tomboy. Kehidupannya berubah drastis yang awalnya bersikap lemah lembut kini menjelma menjadi sosok cewek yang bisa dikatakan cewek setengah cowok. Dia merubah dirinya menjadi sesosok cewek yang tomboy dikarenakan depresi karna selalu tersakiti oleh cowok. Oleh karna itu dia memutuskan untuk menutup hati bagi seorang cowok yang mendekatinya dan dia membuat janji bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Namun semua aturan yang telah dibuatnya perlahan runtuh seakan seperti bekuan es yang mencair ketika terkena sinar matahari. Kehadiran sosok cowok sederhana mampu mengubah hidupnya. Siapakah sosok cowok tersebut? Dan apa yang dia lakukan sehingga mampu merubah kehidupan Elsa? Penasaran? Silakan baca cerita ini sampai akhir. Selamat membaca~

 Perlahan  namun pasti ku langkahkan kakiku, semakin cepat dan cepat menuju kearah sebuah pemandangan yang membuat ku merasa gerah.
“oh!! jadi selama ini yang kamu lakuin di belakang ku, alasannya gak bisa jemput karna ada acara keluarga tapi nyatakan kamu malah asyik-asyikkan bersama cewek lain,” amarah Elsa meluap.

“heii.. sayang!! Kamu ini apa-apaan sih, tiba-tiba datang kok langsung marah-marah gak jelas gitu.”
“owhh!! Masih kurang jelas ya? Emang kamu pikir aku ini buta apa, setelah apa yang aku lihat di depan mata kepala ku sendiri.”
“heii.. kamu tenang ya, kamu dengerin penjelasan aku dulu.”
“kamu mau jelasin apa lagi? Semua yang aku lihat ini sudah cukup jelas untuk menjelaskan semuanya. Aku emang bodoh, bodoh banget karna sebegitu percayanya aku sama kamu, seharusnya aku dengerin apa yang mereka katakan tentang kamu, kamu itu emang brengsek!! Mulai saat ini kita putus!!!.”
“owh!! Jadi kamu mau putus, oke dengan senang hati aku menerimanya, emang kamu pikir aku bahagia apa punya pacar seperti kamu.” Elsa menatap lirih…
“dengerin baik-baik ya, aku itu gak pernah cinta sama kamu, selama ini aku jalani hubungan ini hanya karna aku kasian sama kamu, kamu tau itu.”

Perasaan Elsa kacau… hatinya seakan hancur berkeping-keping mendengar perkataan dari orang yang dia cintainya. Dia tidak pernanh menyangka bahwa orang yang selama ini di sayangi dan dia banggakan bisa menyakitinya sampai sehancur ini.
Elsa terus berlari dan berlari sekuat dan semampunya berusaha berada jauh dari orang yang telah membuatnya kecewa. Dengan deraian air mata dia terus berlari dan berlari menjauh.
mentari seakan menemaninya berlari, hangat sengatan cahayanya tak mampu mencairkan hati yang sedang terluka.

Sesampainya dirumah, Elsa hanya bisa terus menangis meratapi kisah cinta yang begitu menyakitkan baginya. Dengan mengambil sebuah buku diary nya dia menuliskan semua apa yang sedang dia rasakan. Berharap hal itu akan mengurangi beban yang ada di dadanya.

“Cinta? Apa yang kalian pikirkan tentang cinta? Kata orang cinta itu indah tapi apa nyatanya, cinta
hanya membuat ku luka dalam setiap waktunya hanya air mata yang menjadi saksi bisunya. Cinta itu omong kosong, cinta itu hanya buaian kata yang hanya manis di awalnya saja dan pada akhirnya ketika mereka merasa bosan kita akan di campakkan begitu saja seperti tidak ada harganya. Aku tidak percaya cinta, cinta hanya membuat seseorang luka. Cinta itu bedebah sebuah filofi tak bermakna, aku tak percaya cinta dan aku benci untuk jatuh cinta………”

Sejak saat itu kehidupan Elsa perlahan-lahan mulai menampakkan perubahan, terutama pada penampilan. Yang dulunya feminim sekarang menjelma sebagai gadis yang tomboy. Dari perubahan tersebut banyak temannya yang merasa kebingungan akan sikap dan perubahan yang terjadi pada Elsa.

“Krinngggg…… “ suara bel sekolah menandakan jam istirahat. Nampak dua remaja yang sedang asyik mengobrol sambil melangkahkan kaki menuju kantin untuk sekedar mengisi perut yang kosong.

“eh.. sa? Akhir-akhir ini kalo tak perhatiin kok ada yang beda ya dari kamu,” ujar Dina seraya memperhatikan temannya itu secara detail.
“gak juga, biasa aja tuh. Emangnya kenapa?” Tanya Elsa bingung.
“iya gak, Cuma kamu beda gitu dari Elsa yang dulu. Gini ya sebelum kamu putus sama si David kamu itu orangnya feminim, rambutnya rapi pokoknya kelihatan kalem gitu deh, lah sekarang kamu lihat diri kamu sediri. Udah penampilan kayak cowok, sikapmu judes, di tambah pakek topi segala lagi kayak anak cowok tau gak kamu, hahaha.” Dina tertawa geli.
“terus masalah gitu buat lo???” ujar Elsa jutek.
“masalah buat aku sih gak tapi masalah buat kamu seperti nya iya,” lanjut Dina.
“Loh? Masalahnya kok ke aku, emang masaalahnya apa coba?” Elsa mengkerutkan keningnya.
“gini ya sa, kalo penampilan mu kayak gini mana ada cowok yang mau sama kamu. Ogah-ogahan mau deketin, mau nyamperin aja mungkin mereka takut, hahaha.” Ejek Dina.
“bodo amet, aku gak peduli dengan semua itu. Entah mereka mau apa tidak itu terserah mereka aku gak peduli.”
“kok gitu! Kenapa?” Dina keheranan.
“karna aku gak mau pacaran lagi, udah itu aja jawabannya, simple kan.”
“serius kamu?”
“apa dimata ku kamu melihat aku sedang bercanda?”
“yah, bukannya seperti itu maksudnya tapikan tidak ada salahnya untuk membuka lembaran baru. Membuka hati yang baru untuk memberikan warna yang baru gitu.”
“sudalah din, aku capek. Aku udah janji kalo aku gak akan pacaran lagi aku muak untuk jatuh cinta. Karna cinta itu hanya bisa memberikan luka.” Jelas Elsa.
“aku ngerti kamu masih sakit hati sama David, tapi gak baik lo berkata seperti itu, aku yakin suatu saat nanti kamu akan temukan seseorang yang bisa buat kamu bahagia,” ujar Dina mencoba menghibur temannya yang sedang galau.
“hahaha, cinta yang seperti itu hanya aka ada dalam cerita legenda atau dongeng semata din, hahaha.” Elsa tertawa lepas.
“yasudah kalo tak percaya, lihat aja nanti.” Dina menggerutu.
“udah yuk kita balik ke kelas, sepertinya sebentar lagi udah bel jam masuk kelas,” ajak Elsa, Dina hanya menganggukkan kepala sambil melangkah kan kaki menuju kelas.

“Din? Nanti pelajarannya siapa?” Tanya Elsa.
“pelajarannya Bu Susy.”
“yak ampun guru itu,” Elsa tidak bersemangat.
“kenapa? Ada masalah?” Dina keheranan.
“ya masalah lah hari ini itu aku belum ngerjain tugas Bu susy.”
“lah.. kenapa belum ngerjain coba?”
“aku lupa, hehehe.”
“yaitu masalah mu, hahaha.” Dina mengejek.
“kurang ngajar!!! Dasar teman tidak berperi kemanusiaan,” ketus Elsa.

Karna keasyikkan ngobrol dan tidak memperhatikan jalan tanpa di sengaja Elsa menabrak seorang cowok yang sedang berjalan di depannya.

“Brruuukk!!” buku jatuh berceceran di lantai.
“eh!! Maaf aku aku gak sengaja,” Elsa kaget.
“iya, tidak apa-apak kok,” ujar cowok tersebut dengan lembut, seraya membereskan buku yang berhamburan di lantai.
“sini biar aku bantu,” Elsa menawarkan bantuan.
*sesaat kemudian buku sudah tertata rapi dalam genggaman cowok tersebut.
“makasi ya sudah dibantu,” ujar cowok itu dengan sedikit senyuman.
“tidak perlu berterima kasih, kan semua ini salah ku.”
 mereka berlalu begitu saja tanpa ada suatu perkenalan diantara mereka….

Hari kembali senja, sang mentari  mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur.
lambat laun cahaya itu mulai menembus dinding candela kaca kamar Elsa, seakan memaksanya untuk bangun dari lelap tidurnya.

“Ggrrrrrr….. Ggrrrr..” suara ponsel Elsa bergetar.
“hallo?” jawab Elsa dengan mata masih tertutup.
“bangun woii tukang tidur!!! Sudah jam berapa ini,” teriak Dina.
“iya-iya, ini sudah bangun bawelll!!!.”

Dengan mata masih setengan terbuka, Elsa perlahan mulai bangun dari tempat tidurnya dan bergegas berkemas diri untuk kesekolah sebelum teman baiknya itu menceramahinya lagi.

*Setibanya di sekolah.

“untung saja aku tidak telat,” Elsa manarik nafas lega.
suara hentakkan langkah kaki bersautan di lantai. Seketika langkah kaki Elsa terhenti, pandangannya tertuju pada satu cowok yang tidak asing baginya.
“sepertinya aku pernah melihatnya?” gemerutu Elsa dalam hati.

“Haii… selamat pagi,” sapa Elsa.
“Heii.. selamat pagi juga,” jawab cowok itu kaget karna kehadiran Elsa yang secara tiba-tiba.
“baru datang juga?”
“hmm.. iya,” jawabnya gugup.
“oia, waktu itu kita belum kenalan, kenalin aku Dina anak XI Boga,” ujar Dina seraya menyalurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
“aku Reno anak XI Pariwisata.”
“ow… anak pariwisata toh!!!”
“iya, kamu anak Boga ya? Pasti jago masak,” Tanya Reno yang membuat Elsa tertawa lepas.
“hahaha, aku gak bisa masak,” jawab Elsa merendah.
“gak percaya aku pasti kamu jago masak, boleh dong suatu saat nanti kamu masakin buat aku,” goda Reno.
“hahaha,” Elsa hanya bisa tertawa lebar mendengar perkataan Reno.
Sejak saat itulah persahabatan mereka mulai terjalin. Dengan terus berjalannya waktu persahabatan mereka semakin dekat, banyak waktu mereka habiskan bersama entah itu hanya sekedar main atau sekedar bercerita.

*Jam istirahat sekolah.

“Haii Reno!!” sapa Elsa secara tiba-tiba.
“hm.. dasar kamu itu ya sa!! Bisa gak kalo kamu datang itu secara normal gitu jangan kayak hantu yang tiba-tiba nongol dong,” ketus Reno.
“hehe, maaf deh kalo itu membuat mu kaget,” ujar Elsa dengan manja.
 “eh ren! Kamu lagi apa? Kayaknya asyik banget.”
“lagi baca buku aja.”
“ciee rajin bener baca buku,” ejek Elsa.
“haha, biasa aja kok Cuma ini lagi baca-baca buat cari refrensi kalo nanti aku buat buku juga.”
“loh!! Kamu suka nulis ?”
“iya, emang kenapa?”
“tidak apa, Cuma kita memiliki hobby yang sama.”
“benerkah? Wow!! Boleh dong kita next time keluar bareng buat diskusi bareng.”
“ide bagus, boleh juga tuh.”

Pada suatu malam mereka berencana untuk keluar bareng. Dan di pilih lah tempat makan Solaria di salah satu Mall sebagai tempat nongkrong sekalian saling sharing tentang buku yang akan mereka buat.

“gimana proses buku yang mau kamu buat, sudah berjalan berapa lembar?” Tanya Elsa.
“masih belum sempat buat nulis, masih fokus sama materi yang akan di tulis karna sebuah buku itu harus memiliki unsur instrintik yang mendalam dan panjang, jadi gak sesimple cerpen,” keluh Reno.
“iya juga sih!!! Aku dulu juga udah sempet buat tapi hanya sampai beberapa puluh lembar aja soalnya aku gak kuat, sumpah buntu rasanya gak ada inspirasi,” ujar Elsa mengeluh.
“hm!!! Oia boleh tanya sesuatu ngak?”
“Tanya apa?”
“kenapa kamu tidak memiliki pacar?”
“tidak apa, hanya saja aku merasa malas untuk pacaran lagi. Cinta telah mengajarkan ku akan sakit hati.”
“hm… begitu ya!! Maaf kalo pertanyaan ku itu membuat merasa terganggu”
“it’s ok!! Tidak masalah.”
Sesaat suasana menjadi hening, hingga akhirnya Elsa membuka suara lagi.

“aku merasa takut untuk jatuh cinta lagi, karna aku rasa semua cowok itu sama saja, gak ada yang beda.” Ujar Elsa.
“benarkah? Apa kamu berfikir seperti itu? Aku rasa tidak.”
“kenapa tidak?”
“gini ya sa kamu dengerin aku. Tuhan menciptakan manusia itu dengan berbeda-beda, jadi satu sama lain itu tidak sama mereka memiliki sifat dan jalan hidup yang berbeda. So, jangan menganggap kalo semua cowok itu sama, jika mindset pikiran mu seperti terus maka yang akan selalu kamu temui adalah cowok seperti apa yang kamu bayangkan. Memang benar kalo tak perhatiin dominan cowok sekarang ini banyak yang gak baik, tapi percaya deh suatu saat kamu akan temukan seseorang yang baik seperti yang kamu inginkan, kamu hanya perlu percaya akan hal itu,” Ujar Reno memberikan nasehat.
Mendengar  perkataan Reno. Elsa hanya tertunduk terdiam membisu.

Waktu terus berlalu mengukir kisah diantara mereka. Hari demi hari  mereka lewati bersama. Kebersamaan canda dan tawa selalu menghiasi pertemanan mereka. Namun demikian tidak ada rasa ketertarikkan satu sama lain, mereka membuat kesepakatan untuk tidak saling mencintai.

“Oia sebentar lagi kamu ultah ya?” Tanya Elsa.
“bagaimana kamu tau?” Tanya Reno heran.
“haha!! Apa yang gak aku tau tentang kamu.”
“beneran ta? Berani aku tes?”
“hehe, gak kok aku cuma tau dari sosmed mu aja.”
“ciee ketahuan yang sering stalker,” saut Reno PeDe.
“haha, gak juga kok cuma kebetulan aja buka sosmed mu.”

Hari terus berlalu sang waktu membawa hari yang selalu dinanti-nanti Reno akhirnya datang juga, yaitu hari kelahirannya.

“ciee yang besok ultah,” goda Elsa.
“haha, apaan sih perasaan ya biasa aja,” ujar Reno malu-malu.
“oia aku ingin memberikan mu sesuatu?” ujar Elsa.
“apa?” Tanya Reno kepo.
“ada deh!!! Nanti kamu juga tau.”
“oia, nanti malem kamu free apa gak?” Tanya Reno.
“kenapa emangnya?”
“gak apa-apa, Cuma mau ngajak kamu mainnya kalo kamu mau.”
“kemana?”
“kemana aja pokoknya sama kamu aja.”
“gimana kalo nonton aja.” Ujar Elsa.
“boleh juga tuh.”

*Pada malam harinya mereka pergi nonton sesuai dengan janji yang telah mereka sepakati.

“mau nonton apa?” Tanya Reno.
“gimana kalo nonton film horror aja, sepertinya seru.”
“emangnya kamu berani?”
“ya beranilah kalo takut ngapain ngajak nonton itu, atau jangan-jangan kamu yang takut ya,” ejek Elsa.
“enak aja kalo ngomong, oke fix nonton ini. Tak buktiin kalo aku itu berani.”
*Setelah beberapa menit silam jalannya pemutaran film.
“Eehh!! Filmnya kok serem sih.” Elsa mulai merasa takut.
“ya namanya juga film horror mbak bro, ya pastinya serem lah. Kalo mau lucu kamu nonton film spongebob aja, hahaha.” Canda Reno.
“aarrrggg!!!!,” Elsa spontan memeluk Reno yang duduk disebelahnya.
“yeee…. Katanya berani kok malah gini,” ujar Reno.
“gak mau, ayo keluar filmnya serem.” Elsa merasa takut.
“lihat dulu ini lagi bagus, bentar lagi juga udah selesai.”
*setelah selesai nonton Reno hanya bisa tertawa lebar setelah melihat wajah Elsa yang tampak pucat karna ketakutan.”
“haha, lihat wajahmu udah kayak orang kekurangan darah aja.” Ejek Reno.”
“kamu mah gitu, jahat!!!!,” ujar Elsa dengan wajah masam.
“haha, abisnya lucu sih lihatin kamu. Iya deh maaf next time kalo mau nonton lagi kita nonton film yang romantis aja biar kamu gak takut,” lanjut Reno mengejek.
*Elsa hanya terdiam enggan bicara.
“abis ini kemana?” Tanya Elsa.
“ya pulanglah, mau kemana lagi coba?” ujar Reno.
“aku gak mau pulang, aku mau menghabiskan malam ini sama kamu.”
“kenapa gitu?” Tanya Reno heran.
“karna aku mau jadi yang pertama nanti yang ucapin HBD ke kamu.”
“hhmm!!! Begitu ya. Tapi kita mau kemana coba?”
“kita muter-muter aja sambil menghabiskan waktu.”
“baiklah,” Reno hanya bisa menuruti kemauan Elsa.

Malam semakin larut, semilir angin malam perlahan mulai merasuk jiwa.
Reno terus memacu motornya dibawah rindangan langit yang penuh bintang. Hingga pada ahirnya waktu menunjukkan jam 00:00 wib.

“HBD ya Reno. I wish all the best for you. Semoga yang baik selalu menyertaimu.” Tutur Elsa seraya memeluk erat tubuh Reno.
“Iya sa makasi banyak. Kamu berhasil menjadi orang pertama yang mengucapkan HBD ke aku,” ujar Reno dengan membalas pelukkan Elsa.
“ayo pulang, waktu sudah malam,” ajak Reno.
*Tiba-tiba sebelum beranjak pulang ciuman hangat menyentuh Reno.
“aku sayang kamu Reno, pokoknya aku sayang Rinoooooo.” Ujar Elsa dengan nada tinggi.

Malam semakin larut cahaya sang rembulan semakin redup, dinginnya malam membuat mereka enggan berlama-lama berada di tengah dinginnya semilir angin malam. Reno pun mengajak Elsa untuk pulang langsung saja Reno bergegas melajukan motornya untuk mengantarkan Elsa pulang.

*Setibanya dirumah Elsa.

“makasi banyak ya untuk malam yang panjang ini Sa,” tutur Reno dengan sedikit senyuman.
“iya sama-sama ren, aku juga seneng kok. Aku ada satu permintaan ke kamu?”
“apa Sa?” Tanya Reno heran.
“aku ingin nanti kalau aku ulang tahun kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan!!”
“apa itu harus?”
“iya harus dong biar impas gitu,” Elsa senyum.
“baiklah!! Akan aku kabulkan permintaan mu.” Sahut Reno mantap.
“dan ada satu lagi Ren?”
“apa lagi?”
“kita memang deket tapi kita hanya sebatas teman tidak boleh inginkan yang lebih.”
“kenapa?”
“iya karna aku hanya ingin berteman dengan mu tidak mau yang lebih, cukup kita hanya bersahabat seperti ini sampai seterusnya.”
“baiklah jika itu keinginan mu, aku terima.”

Sejak saat itu mereka berdua sepakat hanya akan menjadi teman dan teman untuk seterusnya. Begitu dekat bagaikan seorang kekasih namun nyatanya mereka hanyalah teman.

*Keesokkan harinya di sekolah.

“Ehh!! Bro, aku lihat akhir-akhir ini kamu semakin deket aja sama Elsa?” Tanya Dimas kepo.
“gak lah bro, aku sama dia Cuma temen aja,” respon Reno santai.
“kenapa ngak kamu pacarin aja dia?”
“haha, gak mungkin lah bro, cowok kayak aku bukan tipenya dia. Dia high class, jadi cowok sederhana kayak aku gak akan ada tempat dihatinya.”
“yahh!! Cemen kamu bro masak gitu aja udah nyerah kejar dong kalo kamu emang suka,” Dimas mencoba menyemangati Reno.
“gak usah lah bro, kita udah buat kesepakatan kalo kita hanya akan jadi teman tidak lebih.”
Mendengar perkataan Reno, Dimas hanya terdiam membisu tanpa berkomentar apapun.

Rotasi dunia terus berputar seperti hal nya persahabatan mereka. berlalu seiring terbit dan terbenamnya sang matahari. Waktu demi waktu mereka lalui bersama, berbagi kisah duka canda dan tawa. Hingga pada akhirnya sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh Reno pun terjadi. Elsa telah jatuh cinta kepadanya……

Hari mulai sore, Reno baru saja tiba dirumahnya setelah selesai hang-out bersama teman-temannya. Reno berbaring diatas ranjangnya untuk melepaskan rasa penak seraya memainkan ponsel yang di genggamannya, lalu Reno mengubah departure picture di salah satu sosmednya. Sesaat kemudian ponselnya pun berdiring….

“Ggrrr…. Ggrrr….” Ponsel Reno bergetar. Langsung saja Reno bergegas untuk membuka pesan tersebut, setelah di buka ternyata pesan itu dari Elsa.
“itu foto kamu sama siapa?” Tanya Elsa sinis.
“itu cuma temen ku aja tadi kita jalan bareng.”
“berdua aja?”
“gak kok, sama temen yang lain juuga. Kenapa Sa?
“gak apa-apa, hanya gak suka aja ngelihatnya.”
“loh!! Emang kenapa coba?”
“kamu itu jadi cowok yang peka dong aku itu cemburu lihat fotomu sama cewek lain,” ujar Elsa dengan jengkel.
“Loh!! Kamu kenapa? Kok cemburu padahal kan kita Cuma teman?” ujar Reno dengan tanya besar di benaknya.
“kamu itu yang peka aku ini sayang sama kamu.”
“iya aku tau kamu sayang aku, tapikan itu hanya sebagai teman kan. Aku juga sayang kamu kok sa, hahaha!!” canda Reno untuk mencairkan suasana. Namun Elsa tidak menjawab pesan Reno lagi. Lama menunggu namun balasan dari Elsa tak kunjung datang. Reno hanya bisa menarik nafas seraya berfikir keras mencari jawaban atas apa yang telah Elsa katakana padanya.

Hari telah pagi, sang mentari mulai menampakkan senyumnya, tampak seorang cowok sedang sibuk mencari sesosok perempuan yang tidak bisa membuat tidurnya tenang semalam.

“maaf mengganggu!! Apa pagi ini kamu melihat Elsa?” tanya Reno ke teman Elsa.
“tidak mas, sepertinya hari ini Elsa tidak masuk.”
“kalo boleh tau kenapa dia tidak masuk?”
 “dia lagi sakit mas.”
“sakit!! Baiklah terima kasih buat infonya.”

*Sore harinya.
hati Reno gelisah tak menentu, pikirannya selalu tertuju tentang Elsa, akhirnya dia memberanikan diri untuk menanyakkan kabar Elsa.

“hari ini aku tidak melihat mu di sekolah, kamu sakit?”
“bagaimana kamu tau?”
“aku tadi mampir ke kelasmu lalu aku tanya ke temenmu, mereka bilang kamu sakit.”
“iya hari aku tidak sekolah kurang enak badan.”
“lalu bagaimana keadaanmu sekarang?”
“aku sudah baikkan kok tenang saja.”
“apa benar kamu  sudah baikkan?”
“iya aku baik kok, kenapa?”
“tidak apa!! Kalo kamu merasa baik bisa gak nanti kamu temuin aku di tempat biasanya kita nongkrong bareng?”
“ada apa?”
“ada sesuatu penting yang ingin aku katakan ke kamu?”
“sepertinya penting!! Baiklah aku usahain, jam berapa?”
“nanti malam jam 8.”
“okelah  nanti malam jam 8.”
Sinar matahari mulai redup, perlahan-lahan mulai menghilang di telan bumi. Malam yang di tunggu pun telah datang. Terlihat Reno sedang gelisah menunggu seseorang yang sedang ia tunggu sedari tadi.

“nungguin ya mas!!” tutur Elsa yang datang secara tiba-tiba.
“uhh!!! Kamu ya!! Mesti kalo datang ngagetin udah kayak hantu tauk,” ujar kesal Reno.
“hahaha, maaf Cuma iseng lo jangan marah ya,” goda Elsa. Namun Reno hanya terdiam tanpa ekspresi.
“yah dia ngambek, jangan marah nanti cepat tua lo kamu, hahaha.” Goda Elsa lagi.
“terus aja ngibulin udah tau datangnya telat juga,” ujar Reno jutek.
“hehe, iyadeh maaf aku telat. Udah lama nunggunya.” ujar Elsa meminta maaf.
“gak juga baru dateng kok, paling Cuma sejam berlalu. Ujar Reno jutek.
“iya maaf deh, udah dong jangan ngambek gitu.”
“hahaha, wajahmu lucu kalo lagi memohon gitu,” ujar Reno balik menggoda.
“hhmm…. Sialan kamu Ren,” Elsa cemberut.
“oia gimana keadaan kamu? Apa sudah membaik?”

“alhamdulilla aku sudah baikkan kok ren!! Oia, ada apa kamu ngajak aku ketemu disini?”
“tidak apa kok aku Cuma kangen aja sama kamu.”
“halah… gombal aja kerjaan mu ren.”
“kalo serius gimana?”
“udah lah jangan bercanda terus, ada perlu apa kamu ngajak aku kesini?”
“aku ingin bertanya sesuatu hal yang penting ke kamu.”
“hal apa?”
“apa maksud kata-katamu waktu itu,” tanya Reno serius.
“kataku yang mana?” Elsa berbalik tanya.
“katamu yang kamu bilang kamu sayang sama aku dan kamu menyuruh ku untuk peka. Apa maksud dengan semua itu.” Ujar reno meminta penjelasan.
“sudalah lupakan saja, itu bukan sesuatu yang penting untuk kamu pikirkan.”
Reno menarik tangan Elsa dan menatap matanya dengan tajam.
“jika itu penting bagiku apa kamu juga tidak akan menjelaskannya padaku? Please….. sa!!! Jelaskan semua ini, hal ini membuat tidur ku tidak tenang.”
Elsa terdiam sejenak, dia menatap lirih Reno yang tampaknya bersungguh-sungguh ingin tau sesuatu yang di sembunyikan Elsa dari Reno.
dengan menarik nafas perlahan Elsa mulai membuka suara.
“maafkan aku Reno,” ujar Elsa dengan wajah tertunduk.
“maaf untuk apa?” tanya Reno tak mengerti.
“aa……ku!!!” tutur Elsa dengan kaku seakan bibir manisnya terasa seperti terkunci.
“aku apa?” tanya Reno.
“aa…kuu, a..kuu,” Elsa terdiam.
“aku apa sa? Bilang aja jangan membuat ku semakin bingung.”
“aku gak bisa ren, aku gak bisa.”
“gak bisa kenapa sa, kamu hanya perlu katakan apa yang ingin kamu katakan sudah itu aja.”
“aku gak bisa ren, aku gak bisa bilang kalo aku itu suka sama kamu!!!.” ujar Elsa keceplosan.
“apa kamu bilang tadi!! Kamu suka aku?” Reno kaget.
“iya!!!! Aku telah jatuh hati padamu ren,” tutur Elsa dengan tertunduk malu.
“hahaha,” Reno tertawa lebar.
“kamu kok malah ketawa sih!! Nyebelin deh,” tutur Elsa dengan wajah masam.
“hehe, maaf deh sa abisnya kamu lucu, hahaha.” Reno kembali tertawa, namun Elsa hanya terdiam.
“apa yang barusan kamu katakan itu serius?” tanya Reno untuk meyakinkan.
“entalah!!! Aku tidak mengerti dengan semua ini. Diawal masih bisa ku kendalikan semua. Bukankah sudah ku bilang aku sedikit anti dengan cinta tapi kehadiran mu membuat ku mematahkan aturan yang ku buat sendiri. Telah ku sibukkan diriku dengan berbagai hal tapi nama mu yang selalu  ku temui di menit sebelum aku tertidur. Ku akui kamu berhasil menaklukkan hatiku oleh mu yang sampai saat ini masih misteri. Tapi aku sudah siap menerima semua konsekuensi ini sebuah realita yang belum pernah kurencanakan sebelumnya. Ini tentang rasa yang akupun sendiri tak mengerti bagaimana realita ini akan tuntas. Hanya maaf yang bisa aku katakana. MAAFKAN AKU TELAH JATUH HATI PADAMU!!!!”

Mendengar perkataan Elsa yang menuh dengan arti membuat Reno termenung dia menatap tajam
kearah wanita yang sepertinya begitu serius menyampaikan perasaannya.

“aku sudah belajar untuk tidak egois. Perhatianku yang dulu untuk diriku sendiri kini telah ku bagi dengan mu. Kini aku sadar  kita sudah berjalan berlawanan arah. Aku memang menulis skenario ku sendiri tapi Tuhan lah yang merestuinya. Frasa yang ku pakai pun belum tentu bisa ku terjemahkan sendiri untuk mu yang selalu ku sebutkan dalam doa. TERIMA KASIH TELAH BERHASIL MEMBUAT KU JATUH CINTA!!!!” lanjut tutur Elsa.
Dalam sekejap mata Reno menarik tangan Elsa dan memeluknya dengan erat seraya berkata:
“sudah hentikan puisi indahmu, hal itu membuat ku tak berdaya berdiri dihadapan mu. Sudah!!! Hentikan tangis mu AKU DISINI UNTUK MU…………..”


Cinta itu memang sulit untuk di mengerti banyak hal yang terjadi di dalamnya. Oleh karna itu dibutuhkan orang-orang yang dewasa untuk bisa memahaminya. Satu hal yang perlu disadari bahwa cinta itu tidak hanya bercerita tentang rasa bahagia namun cinta juga bercerita tentang rasa kecewa. Jadi ketika kita merasakan pahitnya cinta jangan jadikan itu alasan untuk menjadi pribadi yang lemah, namun sakitnya cinta mengajarkan kita tentang arti kekuatan dalam menjalani hidup ini.
̴Sekian!!!!


By: Riyan Autogenestic.